CERPEN :
Jatuh
Cinta Pada Pandangan Pertama
Siang hari, ketika itu
aku sedang duduk termenung di depan rumah tetanggaku. Aku melihat seorang gadis
lewat di hadapanku memakai baju seragam sekolah. Malamnya seorang gadis
menginviteku di bbm, rupanya gadis itu. Aku menyapa dia lebih awal, aku
bertanya-tanya tentangnya lewat bbm. Semakin lama semakinku mengenalinya dan
ternyata dia temen kecilnya adeku. Sejenak teringat gadis itu akan masa
kecilnya dulu sambil tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Setiap dia lewat
aku selalu menggodainya hingga dia tersipu malu dan selalu menundukkan
kepalanya. Hingga saat aku bertemu dengannya lagi, dia sedang berjalan bersama
ibunya dan aku memanggilnya namun dia bersembunyi dibalik tubuh ibunya. Sungguh
anak yang pemalu tidak berani menatap mataku. Sampai akhirnya aku dekat
dengannya lagi ketika dia sudah beranjak dewasa.
Awal pendekatan kita,
aku menjemputnya pulang sekolah. Setelah beberapa hari kemudian kita menonton
sebuah film di bioskop. Awalnya gadis itu terlihat biasa-biasa saja, namun saat
aku perhatikan lebih dalam lama kelamaan gadis itu cantik juga. Dia gadis yang
cantik, baik hati, tidak sombong, periang, dan hampir sempurna dimataku.
Perasaan tertarik pada dirinya sudah mulai ada di hatiku sekarang. Sejak saat itu
aku jadi lebih sering pulang ke rumah orangtuaku yang berdekatan rumahnya
dengan gadis itu. Setiap sore aku sengaja nongkrong di depan rumah temanku
karena lebih dekat dengan rumah gadis itu agar bisa melihat wajahnya dan
menjumpainya.
Tiba saatnya bulan
ramadhan, kesempatanku bertemu dengannya lebih sering. Aku jadi lebih rajin
tarawih agar bisa melihatnya, namun sangat di sayangkan ketika dia sedang
berhalangan aku jadi tidak bisa melihatnya lagi selesai sholat. Selama bulan
ramadhan aku selalu berusaha untuk membangunkannya sahur dengan cara ku telepon
agar dia bangun. Selesai sahur aku pun pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah
sholat subuh, dan akhirnya aku bertemu di jalan saat menuju ke masjid. Usai
sholat subuh aku pun duduk di depan masjid menunggunya pulang, ku pandangi dia
tapi dia mengacuhkan aku. Mengetahui dia masih single, tak perlu menunggu waktu
yang lebih lama lagi aku akan memintanya untuk menjadi lebih dari sekedar
teman. Dan aku pun menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku ini
kepadanya. Tiba waktunya, beberapa hari kemudian aku memberanikan diri untuk
menyatakan perasaanku. Aku memintanya untuk menjadi pacarku dan akhirnya dia
menerimanya. Tanyata dia juga suka kepadaku. Tidak lama dri hari jadian kita
malam takbiran pun tiba. Aku mengajaknya jalan-jalan sebentar.
Esok paginya, aku melihat ketika dia sedang
bersalam-salaman. Aku ingin menghampirinya namun aku malu. Dia terlihat sangat
cantik sekali dengan mengenakan baju berwarna hijau. Aura kecantikannya sangat
terlihat jelas di mataku dan membuat aku semakin jatuh hati kepadanya. libur
panjang mendekati masuk sekolah malam itu malem minggu, aku mengajaknya jalan
untuk makan di luar. Aku pun menjemputnya di rumah, bertemu langsung dengan
ibunya aku pun merasa panik. Aku pun
bersalaman dengan ibunya dengan rasa sedikit percaya diri namun ibunya berkata
kepadaku agar tidak sering-sering mengajak anaknya bermain keluar rumah dan aku
pun menurutinya. Tak perlu susah untuk menemuinya jarak rumah kami sangat
berdekatan.
Keesokan harinya, kami
janjian untuk lari pagi berdua. Biasanya minggu pagi aku masih tertidur pulas
di kamar. Saat itu aku belum tidur sama sekali rasa ngantuk awalnya di rasakan
olehku, lalu dia mengajakku berbicara menjadikanku tidak merasakan ngantuk lagi.
Sejak saat itu setiap minggu pagi kami pun mempunyai jadwal lari pagi.
Seiring berjalannya
waktu, sekarang hampir semua orang di lingkungan rumahku tahu kalo kita
mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman. Orang tuaku tahu, begitupun
dengannya. Dan kami pun akhirnya menjalin hubungan ini dengan bahagia walaupun
banyak pengganggu hubungan kami namun tak kami hiraukan. Buat kami kejujuran
dan kepercayaanlah yang menjadikan kami tidak goyah akan hal yang ingin
memisahkan kami. Tak peduli orang mau berkata apa. Tuhan… jangan pisahkan aku
dengannya. Aku sangat menyayangi dan mecintainya. Aku ingin setiap saat
bersamanya hingga akhir hayat nanti. Tolong jagalah perasaan ini, Tuhan…